Minggu, 11 Maret 2012

Wayang Golek

Wayang golek adalah seni pertunjukan yang sudah menjadi ciri bersama di kalangan masyarakat Sunda. Pementasan wayang golek dengan dalang kondang selalu menyedot perhatian masyarakat untuk menontonnya. Tradisi menonton wayang ini seakan sudah menjadi fenomena tersendiri di Tatar Sunda. Para penonton datang dari berbagai pelosok, membawa tikar, kain sarung untuk menutup tubuh sekadar mengusir hawa dingin. Ya, pertunjukan wayang golek biasa dilaksanakan hingga menjelang adzan subuh berkumandang. Tidak heran, jika masyarakat tumpah ruah demi menyaksikan pertunjukan teater boneka kayu tradisional ini. Ini seakan sudah menjadi media pemersatu masyarakat Sunda melalui media seni.

Pementasan wayang golek biasa dilaksanakan dalam beragam acara (sebagai hiburan): acara perkawinan, sunatan, ulang tahun, hingga peresmian. Yang mengundang group wayang golek biasanya dari rakyat biasa, juragan/bangsawan/tokoh masyarakat, hingga lembaga pemerintahan. Tradisi nanggap wayang golek telah menciptakan pola sosial dan pola budaya tersendiri di tanah Sunda. Wayang golek pun mengalami perkembangan dari zaman ke zaman. Jika dulu mungkin hanya bisa disaksikan langsung di tanah lapang, sekarang dengan kecanggihan multimedia, kita bisa menikmatinya lewat VCD/DVD, mendengarkan di kaset/ radio, atau sekadar menontonnya di dunia maya seperti di Youtube. Ada banyak pementasan wayang golek yang sengaja diunggah di dunia maya. Ini sebagai bukti bahwa masyarakat masih mempunyai rasa kareueus (bangga) dan katineung (merindukan) kesenian tradisional wayang golek ini.

Dalam pertunjukan wayang golek dikenal dalang, nayaga, dan sinden.
- Dalang dalam dunia pewayangan diartikan sebagai seseorang yang mempunyai keahlian khusus memainkan boneka wayang. Keahlian ini biasanya diperoleh dari bakat turun-temurun dari leluhurnya. Dalang Wayang Golek yang terkenal diantaranya adalah Tarkim, R.U. Partasuanda, Abeng Sunarya, Entah Tirayana, Apek, Asep Sunandar Sunarya, Cecep Supriadi.
- Nayaga merupakan istilah pedalangan berarti sekumpulan orang/sekelompok orang yang mempunyai keahlian khusus menabuh gamelan, terutama dalam mengiringi sang dalang dalam pertunjukan wayang.
- Sinden adalah sebutan bagi wanita yang bernyanyi mengiringi orkestra gamelan. Pesinden yang baik harus mempunyai kemampuan komunikasi yang luas dan keahlian vokal yang baik serta kemampuan untuk menyanyikan tembang.

A. Asal Usul Wayang Golek
Asal muasal wayang golek sejarah pastinya tidak diketahui secara jelas. Hal ini karena tidak ada keterangan lengkap (baik sumber tertulis maupun lisan). Sejarah wayang golek tidak dapat dipisahkan dari wayang kulit. Hal ini karena wayang golek merupakan perkembangan dari wayang kulit. Namun demikian, Salmun (1986) menyebutkan bahwa pada tahun 1583 Masehi Sunan Kudus membuat wayang dari kayu yang kemudian disebut wayang golek yang dapat dipentaskan pada siang hari.

Sejalan dengan itu Ismunandar (1988) menyebutkan bahwa pada awal abad ke-16 Sunan Kudus membuat bangun wayang purwa sejumlah 70 buah dengan cerita Menak yang diiringi gamelan Salendro. Pertunjukannya dilakukan pada siang hari. Wayang ini warnanya polos sesuai dengan warna kayu. Wayang ini menyerupai boneka kayu. Jadi, bahannya bukan dari kulit sebagaimana halnya wayang kulit. Oleh karena itu, wayang ini kemudian disebut sebagai wayang golek (wayang kayu).

Pada mulanya yang dilakonkan dalam wayang golek adalah ceritera panji dan wayangnya disebut wayang golek menak. Konon, wayang golek ini baru ada sejak masa Panembahan Ratu (cicit Sunan Gunung Jati (1540-1650). Di daerah Cirebon disebut sebagai wayang golek papak atau wayang cepak karena bentuk kepalanya datar. Pada zaman Pangeran Girilaya (1650-1662) wayang cepak dilengkapi dengan cerita yang diambil dari babad dan sejarah tanah Jawa. Lakon-lakon yang dibawakan waktu itu berkisar pada penyebaran agama Islam. Selanjutnya, wayang golek dengan lakon Ramayana dan Mahabarata (wayang golek purwa) yang lahir pada 1840 (Somantri, 1988).

Adapun pada perkembangan selanjutnya, pementasan wayang golek diprakarsai oleh Dalem Karang Anyar (Wiranata Koesoemah III) pada masa akhir jabatannya. Waktu itu Dalem memerintahkan Ki Darman (penyungging wayang kulit asal Tegal) yang tinggal di Cibiru (kawasan Bandung Timur) untuk membuat wayang dari kayu. Bentuk wayang yang dibuatnya semula berbentuk gepeng dan berpola pada wayang kulit. Namun, pada perkembangan selanjutnya, atas anjuran Dalem, Ki Darman membuat wayang golek yang membulat tidak jauh berbeda dengan wayang golek sekarang. Di daerah Priangan sendiri dikenal pada awal Abad ke-19. Perkenalan masyarakat Sunda dengan wayang golek dimungkinkan sejak dibukanya jalan raya Daendels yang menghubungkan daerah pantai dengan Priangan yang bergunung-gunung. Semula wayang golek di Priangan menggunakan bahasa Jawa. Namun, setelah orang Sunda pandai mendalang, maka bahasa yang digunakan adalah bahasa Sunda.

B. Jenis-jenis Wayang Golek
Ada tiga jenis wayang golek, yaitu:
- Wayang golek papak (cepak) terkenal di Cirebon dengan ceritera babad dan legenda serta menggunakan bahasa Cirebon.
- Wayang golek purwa adalah wayang golek khusus membawakan cerita Mahabharata dan Ramayana dengan pengantar bahasa Sunda.
- Wayang golek modern seperti wayang purwa (ceritanya tentang Mahabarata dan Ramayana, tetapi dalam pementasannya menggunakan listrik untuk membuat trik-trik. Pembuatan trik-trik tersebut untuk menyesuaikan pertunjukan wayang golek dengan kehidupan modern. Wayang golek modern dirintis oleh R.U. Partasuanda dan dikembangkan oleh Asep Sunandar Sunarya sekitarr tahun 1970 - 1980.

C. Pembuatan Wayang Golek
Wayang golek terbuat dari albasiah atau lame. Cara pembuatannya adalah dengan meraut dan mengukirnya, hingga menyerupai bentuk yang diinginkan. Untuk mewarnai dan menggambar mata, alis, bibir dan motif di kepala wayang, digunakan cat duko. Cat ini menjadikan wayang tampak lebih cerah. Pewarnaan wayang merupakan bagian penting karena dapat menghasilkan berbagai karakter tokoh. Adapun warna dasar yang biasa digunakan dalam wayang ada empat yaitu: merah, putih, prada, dan hitam.


D. Nilai Budaya dalam Wayang Golek
Wayang golek sebagai suatu kesenian tidak hanya mengandung nilai estetika semata, tetapi meliputi keseluruhan nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu disosialisasikan oleh para seniman dan seniwati pedalangan yang mengemban kode etik pedalangan. Kode etik pedalangan tersebut dinamakan "Sapta Sila Kehormatan Seniman Seniwati Pedalangan Jawa Barat".

Rumusan kode etik pedalangan tersebut merupakan hasil musyawarah para seniman seniwati pedalangan pada tanggal 28 Februari 1964 di Bandung. Isinya antara lain sebagai berikut:
  1. Seniman dan seniwati pedalangan adalah seniman sejati sebab itu harus menjaga nilainya.
  2. Mendidik masyarakat. Itulah sebabnya diwajibkan memberi contoh, baik dalam bentuk ucapan maupun tingkah laku.
  3. Juru penerang. Karena itu diwajibkan menyampaikan pesan-pesan atau membantu pemerintah serta menyebarkan segala cita-cita negara bangsanya kepada masyarakat.
  4. Sosial Indonesia. Sebab itu diwajibkan mengukuhi jiwa gotong-royong dalam segala masalah.
  5. Susilawan. Diwajibkan menjaga etika di lingkungan masyarakat.
  6. Mempunyai kepribadian sendiri, maka diwajibkan menjaga kepribadian sendiri dan bangsa.
  7. Setiawan. Maka diwajibkan tunduk dan taat, serta menghormati hukum Republik Indonesia, demikian pula terhadap adat-istiadat bangsa.

Sebagaimana alur cerita pewayangan umumnya, dalam pertunjukan wayang golek juga biasanya memiliki lakon-lakon baik galur maupun carangan yang bersumber dari cerita Ramayana dan Mahabarata dengan menggunakan bahasa Sunda dengan iringan gamelan Sunda (salendro), yang terdiri atas dua buah saron, sebuah peking, sebuah selentem, satu perangkat boning, satu perangkat boning rincik, satu perangkat kenong, sepasang gong (kempul dan goong), ditambah dengan seperangkat kendang (sebuah kendang Indung dan tiga buah kulanter), gambang dan rebab.

Sejak 1920-an, selama pertunjukan wayang golek diiringi oleh sinden. Popularitas sinden pada masa-masa itu sangat tinggi sehingga mengalahkan popularitas dalang wayang golek itu sendiri, terutama ketika zamannya Upit Sarimanah dan Titim Patimah sekitar tahun 1960-an.

Dalam pertunjukan wayang golek, lakon yang biasa dipertunjukan adalah lakon carangan. Hanya kadang-kadang saja dipertunjukan lakon galur. Hal ini seakan menjadi ukuran kepandaian para dalang menciptakan lakon carangan yang bagus dan menarik. Beberapa dalang wayang golek yang terkenal diantaranya Tarkim, R.U. Partasuanda, Abeng Sunarya, Entah Tirayana, Apek, Asep Sunandar Sunarya, Cecep Supriadi dll.




Pola pengadegan wayang golek adalah sebagai berikut; 1) Tatalu, dalang dan sinden naik panggung, gending jejer/kawit, murwa, nyandra, suluk/kakawen, dan biantara; 2) Babak unjal, paseban, dan bebegalan; 3) Nagara sejen; 4) Patepah; 5) Perang gagal; 6) Panakawan/goro-goro; 7) Perang kembang; 8) Perang raket; dan 9) Tutug.

Salah satu fungsi wayang dalam masyarakat adalah ngaruat, yaitu membersihkan dari kecelakaan (marabahaya). Beberapa orang yang diruwat (sukerta), antara lain: 1) Wunggal (anak tunggal); 2) Nanggung Bugang (seorang adik yang kakaknya meninggal dunia); 3) Suramba (empat orang putra); 4) Surambi (empat orang putri); 5) Pandawa (lima putra); 6) Pandawi (lima putri); 7) Talaga Tanggal Kausak (seorang putra dihapit putri); 8) Samudra hapit sindang (seorang putri dihapit dua orang putra), dan sebagainya.

Sumber

Baca juga:
- Nama Tokoh-Tokoh Wayang Golek
- Asep Sunandar Sunarya (Dalang Wayang Golek)
- Kerajinan Wayang Golek Giri Harja


Sumber lain:
- Ganjar Kurnia. 2003. Deskripsi Kesenian Jawa Barat. Dinas Kebudayaan & Pariwisata Jawa Barat, Bandung.
- Nisfiyanti, Yanti. 2005. “Wayang Media Sosialisasi Nilai-Nilai Budaya pada Masyarakat Sunda” (Laporan Hasil Penelitian)
- www.id.wikipedia.org

Undak Usuk Basa Sunda

Sampurasun...

Baraya sadayana, wilujeng tepang. Tos lami astrajingga teu nepangan baraya. Hapunten pisan baraya, astrajingga nembe tiasa deui ngaposting dinu blog Sastra Jingga deui. Tah, dina danget ieu astrajingga bade ngaguar ngeunaan undak usuk basa dina basa sunda. Baraya tangtos parantos seueur anu uninga naon ari undak usuk basa. Kangge anu teu aca uninga naon ari undak usuk basa, sok lajengkeun deui maca na.

Undak usuk basa teh upami dihartoskeun kanu basa Indonesia mah "Tingkatan Berbahasa". Anu dimaksad tingkatan di dieu nyaeta, tata cara urang nyarios dibentenkeun ku faktor yuswa. Kumaha cara na urang nyarios ka saluhureun, ka sasama, sareng ka sahandapeun. Sajabina ti eta, undak usuk basa oge dibentenkeun ku kangge saha kecap anu ku urang diucapkeun, keur sorangan atanapi kangge batur. Di dieu aya nu disebat ragam hormat.

Aya sababaraha ragam hormat. Diantawisna anu kahiji disebatna ragam hormat "basa loma". Basa loma biasa na diangge kangge ka sasama anu tos akrab pisan. Basa loma kadanguna kasar, tapi teu disebat kasar sareng teu nyopan da diangge na ge ka sasama anu biasana tos sagulung sagalang. Benten deui upami diangge ka batur anu nembe tepang atanapi nembe kenal, komo deui ka saluhureun. Eta tangtos bae disebatna teu sopan atanapi upami sapertos cara nyarios na Bima dina pawayangan mah "ngoko".

arjuna, nakula, sadewa (katuhu) gunem bari calik bongkok ngahormat raka na yudhistira sareng bima (kiri)
Tah anu salajengna aya ragam hormat "basa lemes". Basa lemes ieu dibentenkeun janten 2. Anu kahiji na basa lemes keur sorangan, sareng anu kadua na basa lemes kangge batur. Basa lemes kangge batur biasana diangge kangge kasaluhureun, ka jalmi anu nembe tepang atanapi nembe kenal boh eta jalmi sasama atanapi sahandapeun. Upami urang nembe tepang atanapi nembe kenal sareng jalmi tangtos bae urang moal tiasa saakrab sareng jalmi anu tos sagulung sagalang sareng urang sadidinten. Tah kukituna urang kedah ngangge basa lemes kangge ka batur ieu. Supados langkung sopan, langkung ngahormat. Kumargi ciri na urang sunda mah someah ka semah, midulur ka batur, depe depe handap asor. Urang kedah ngahormat batur, ke ge batur bakal ngahormat ka urang.

Di handap ieu astrajingga nyutat kecap-kecap anu dikelompokeun kana basa loma, basa lemes keur sorangan, sareng basa lemes keur batur (sumber). Mangga dititenan, teras dilarapkeun kana kahirupan urang sadidinten. Supados basa sunda nu ku urang angge teh saluyu sareng undak usuk basa na. Wilujeng maca...

    UNDAK-USUK BASA (BASA LOMA-BASA LEMES)

     

    Basa Loma
    Basa Lemes
    (Keur ka sorangan)
    Basa Lemes
    (Keur ka batur)



    Abus, asup Lebet Lebet
    Acan, tacan, encan Teu acan Teu acan
    Adi Adi Rai, rayi
    Ajang, keur, pikeun Kanggo Haturan
    Ajar Ajar Wulang, wuruk
    Aji, ngaji Ngaji Ngaos
    Akang Akang Engkang
    Aki Pun aki Tuang Eyang
    Aku, ngaku Aku, ngaku Angken, ngangken
    Alo Pun alo Kapiputra
    Alus Sae Sae
    Ambeh, supaya, sangkan Supados Supados
    Ambek Ambek Bendu
    Ambe, ngambeu Ngambeu Ngambung
    Amit, amitam Permios Permios
    Anggel Bantal Bantal, kajang mastaka
    Anggeus, enggeus Rengse Parantos
    Anjang, nganjang Ngadeuheus Natamu
    Anteur, nganteur Jajap, ngajajapkeun Nyarengan
    Anti, dago, ngadagoan, Ngantosan Ngantosan
    Arek Bade, seja Bade, seja
    Ari Dupi Dupi
    Asa, rarasaan Raraosan Raraosan
    Asal Kawit Kawit
    Aso, ngaso Ngaso Leleson
    Atawa Atanapi Atanapi
    Atoh, bungah Bingah Bingah
    Awak Awak Salira
    Awewe Awewe Istri
    Babari, gampang Gampil Gampil
    Baca Aos Aos
    Badami Badanten Badanten
    Bae, keun bae Sawios, teu sawios Sawios, teu sawios
    Bagea Bagea Haturan
    Baheula Kapungkur Kapungkur
    Baju Baju Raksukan, anggoan
    Bakti Baktos Baktos
    Balik, mulang Wangsul Mulih
    Balur Balur Lulur
    Bangga Sesah Sesah
    Bapa Pun Bapa Tuang Rama
    Bareng, reujeung Sareng Sareng
    Bareto Kapungkur Kapungkur
    Batuk Bantuk Gohgoy
    Batur Babaturan Rerencangan
    Bawa Bantun Candak
    Beak Seep Seep
    Beda Benten Benten
    Beja Wawartos Wawartos
    Bener, enya Leres Leres
    Bengek, mengi Asma Ampeg
    Bere, mere Maparin, masihan Ngahaturaan, ngaleler
    Berekah Pangesto, pangestu Damang, wilujeng
    Beuki Beuki, seneng Sedep
    Beulah Palih Palih
    Beuli, meuli Meser Ngagaleuh
    Beunang Kenging Kenging
    Beungeut Beungeut Pameunteu, raray
    Beurang Siang Siang
    Beurat Abot Abot
    Beuteung Padaharan Patuangan, lambut
    Bibi Pun bibi Tuang bibi
    Bikeun, mikeun Maparinkeun Ngahaturkeun,nyanggakeun
    Bilang, milang Ngetang Ngetang
    Birit, bujur Birit, bujur Imbit
    Bisa Tiasa Tiasa
    Bisi Bilih Bilih
    Biwir Biwir Lambey
    Boa Tiasa jadi Tiasa jadi
    Boga Gaduh Kagungan
    Buang, ngising Miceun Kabeuratan
    Budak Budak Murangkalih
    Bujal Bujal, puser Udel
    Buka puasa Buka Bobor
    Bukti Buktos Buktos
    Bulan Sasih Sasih
    Bungah, gumbira Bingah Bingah
    Burit Sonten Sonten
    Buru Bujeng Bujeng
    Butuh Perlu Peryogi
    Cabak, nyabak Nyabak Cepeng
    Cageur Pangesto, pangestu Damang
    Calana Calana Lancingan
    Cangkeng Cangkeng Angkeng
    Caram, carek, nyarek Nyarek Ngawagel
    Carang, langka Awis Awis
    Carek, nyarekan Nyarekan Nyeuseul
    Carita, nyarita, ngomong Nyanggem Nyarios
    Cenah Cenah Saurna
    Cekel, nyekel Nyekel Nyepeng
    Celuk,nyeluk,gero,ngageroan Nyauran Ngagentraan
    Ceuli Ceuli Cepil
    Ceurik Ceurik Nangis
    Cicing Matuh Calik, linggih
    Ciduh Ciduh Ludah
    Cik, cing Cobi Cobi
    Cikal Cikal Putra pangageungna
    Ciling, pacilingan Kakus Jamban
    Ciri Tanda Tawis
    Cium, nyieum Nyieum Ngambung
    Cokot, nyokot Ngabantun Nyandak
    Cukup, mahi Cekap Cekap
    Cukur, dicukur Dicukur Diparas
    Cunduk, dating Dongkap Sumping, rawuh
    Daek Daek, purun Kersa
    Dagang Dagang Icalan
    Dahar Neda Tuang
    Dangdan Dangdan Dangdos
    Dapur Dapur Pawon
    Denge, ngadenge Nguping, mireng Ngadangu
    Deukeut Caket Caket
    Didik, ngadidik Ngatik Miwuruk,mitutur,miwejang
    Diri Diri Salira
    Diuk Diuk Calik, linggih
    Duga, kaduga Kaduga Kiat
    Duit Artos Artos
    Dumeh, lantaran Jalaran Ku margi
    Eling, inget Emut Emut
    Emboh, tambah Tambih Tambih
    Era Isin Lingsem
    Embung Alim Teu kersa
    Enggon Pamondokan Pangkuleman
    Eukeur, keur Nuju Nuju
    Eusi, ngeusian Ngalebetan Ngalebetan
    Euweuh Teu aya Teu aya
    Gancang Enggal Enggal
    Ganti Ganti Gentos
    Gardeng, reregan Gardeng Lalangse
    Gawe Gawe Damel
    Gede Gede Ageung
    Gelung Gelung Sanggul
    Genah, ngeunah Raos Raos
    Gering Udur Teu damang
    Getol Getol Kersaan
    Geulang Geulang Pinggel
    Geura, pek, heg Geura, mangga Mangga
    Geuwat Enggal Enggal
    Gigir, gigireun Gigireun Gedengeun
    Gimir Gimir Rentag manah
    Gogoda, cocoba Cocoba Cocobi
    Goreng Goreng Awon
    Gugu, ngagugu Nurut Tumut
    Haben Haben Teras-terasan
    Hadir, ngahadiran Nungkulan Ngaluuhan
    Hal, perkara Perkawis Perkawis
    Halis Halis Kening
    Hampura, maap Hapunten Hapunten, haksama
    Hareup Payun Payun
    Harga Harga Pangaos
    Harti Hartos Hartos
    Hate Hate Manah
    Hawatir,watir,karunya Watir Hawatos
    Hayang Hoyong Palay
    Helok Heran Hemeng
    Hese, susah, pelik Sesah Sesah
    Heuay Heuay Angob
    Heubeul, lawas Heubeul Lami
    Heug, seug Mangga Mangga
    Hili, tukeur Liron Gentos
    Hirup Hirup Jumeneng
    Hudang Hudang Gugah
    Huntu Huntu Waos
    Hutang Hutang Sambetan
    Iber, beja, warta Wartos Wartos
    Idin Widi Widi
    Igel Igel Ibing
    Iket Totopong Udeng
    Ilik, ngilikan Ningalan Ningalan
    Ilu, ngilu Ngiring Ngiring
    Imah Rorompok Bumi
    Impi, ngimpi Impen, ngimpen Impen, ngimpen
    Imut Imut Mesem
    Incu Pun incu Tuang putu
    Indit, miang Mios Angkat, jengkar
    Indung Pun biang Tuang ibu
    Inggis, risi Inggis, risi Rempan
    Injeum, nginjeum Nambut Nambut
    Inum, nginum Leueut, ngaleueut Leueut, ngaleueut
    Irung Irung Pangambung
    Isuk, isukan Enjing Enjing
    Itung Itung Etang
    Iwal, kajaba Kajaba Kajabi
    Jaga Jaga Jagi
    Jalma, jelema Jalmi Jalmi
    Jauh Tebih Tebih
    Jawab Walon Waler
    Jero Lebet Lebet
    Jeung Sareng Sareng
    Jiga Jiga Sapertos,sakarupi
    Jual Ical Ical
    Jugjug Bujeng Bujeng
    Juru, ngajuru Ngalahirkeun Babar
    Kabeh, kabehanana Sadayana Sadayana
    Kabur, minggat Minggat Lolos
    Kacida, naker Kalintang Kalintang, teu kinten
    Kajeun, keun bae Sawios Sawios
    Kakara, karek Nembe Nembe
    Karembong Kekemben Kekemben
    Kari, tinggal Kantun Kantun
    Kasakit, nyeri Kasakit, kanyeri Kasawat
    Katara, kaciri Katawis Katawis
    Kapalang, kagok Kapambeng Kapambeng
    Kawas Sapertos Sapertos
    Kawin Nikah, jatukrami Jatukrami,rendengan
    Kede Kenca Kiwa
    Kejo, sangu Sangu Sangu
    Kelek Kelek Ingkab
    Kesang Karinget Karinget
    Keur, pikeun Kanggo Kanggo, haturan
    Kiih Kahampangan Kahampangan
    Kolot Kolot Sepuh
    Kongkorong Kangkalung Kangkalung
    Kop, pek Mangga Mangga
    Kuat Kiat Kiat
    Kudu Kedah Kedah
    Kumbah Kumbah Wasuh
    Kumis Kumis Rumbah
    Kumpul Kempel Kempel
    Kungsi Kantos Kantos
    Kurang Kirang Kirang
    Kuring, sim kuring Abdi, sim abdi Sim abdi
    Labuh Labuh Geubis
    Lahun, ngalahun Ngalahun Mangkon
    Lain Sanes Sanes
    Laju Lajeng Lajeng
    Laki, lalaki Lalaki Pameget
    Laku, payu, laris Pajeng Pajeng
    Lalajo Nongton Nongton
    Lamun, upama Upami Upami
    Lanceuk Pun lanceuk Tuang raka
    Lantaran, sabab Jalaran, sabab Mari
    Leho Leho Umbel
    Letah Letah Ilat
    Leungeun Leungeun Panangan
    Leungit Leunit Ical
    Leutik Alit Alit
    Leuwih Langkung Langkung
    Lila Lami Lami
    Mahal Awis Awis
    Maksud Maksad Maksad
    Malarat, miskin Jalmi teu gaduh Teu kagungan nanaon
    Malem Wengi Wengi
    Malik Malik Mayun
    Mamayu Mamayu Mamajeng
    Mangka, sing, muga Mugi Mugi
    Maot Maot Pupus, tilar dunga
    Marhum Marhum, jenatna Marhum, suargi
    Memeh, samemehna Sateuacanna Sateuacanna
    Mending, leuwih hade Langkung sae Langkung sae
    Meujeuhna Meujeuhna Cekap
    Meueun Panginten Panginten
    Mimimti, mimitina Kawitna Kawitna
    Minangka Etang-etang Etang-etang
    Mindeng, remen Sering Sering
    Minyak Lisah Lisah
    Muga Mugi Mugia
    Mupakat, rempug Mupakat, rempug Rempag
    Murah Mirah Mirah
    Najan, sanajan Sanaos Sanaos
    Ngan Mung Mung
    Ngaran Wasta, nami Jenengan, kakasih
    Ngeunah Ngeunah Raos
    Ngora Ngora Anom
    Nini Pun nini Tuang eyang
    Nyaho Terang Uninga
    Nyaring Nyaring Teu acan kulem
    Nyolowedor Nyolowedor Midua maha
    Obat, ubar Obat, ubar Landog
    Ogan, ondang Ondang Ulem
    Ome,ngomean,menerkeun Ngalereskeun Ngalereskeun
    Paham Paham,ngartso Ngartos
    Paju, maju Majeng Majeng
    Pake, make Nganggo Nganggo
    Palangsiang, bias jadi Tiasa jadi Tiasa jadi
    Palire, malire Malire Merhatoskeun
    Pamajikan Pun bojo Tuang rayi
    Pancuran, kamar mandi Jamban Jamban
    Pandeuri Ti pengker Ti pengker
    Pang, pangna, nu matak Nu mawi Nu mawi
    Panggih, manggih, nimu Mendak Mendak
    Pangkat, kadudukan Kadudukan Kalungguhan
    Pangku, mangku Mangku Mangkon
    Panon Panon Soca
    Pantar, sapantar Sapantar Sayuswa
    Paribasa Paripaos Paripaos
    Pariksa, mariksa Mariksa Marios
    Parna Repot Wales
    Paro, saparo Sapalih Sapalih
    Pasti, tangtu Tangtos Tangtos
    Pati, teu pati Teu patos Teu patos
    Patuh, matuh Matuh Linggih
    Payung Payung Pajeng
    Pedah Ku margi, jalaran Rehing
    Penta, menta Neda, nyuhunkeun Mundut
    Pecak, mecak, nyoba Nyobi Nyobi
    Pencet, mencetan Meuseulan Meuseulan
    Percaya Percanten Percanten
    Perlu Perlu Peryogi
    Permisi Permios Permios
    Peuting Wengi Wengi
    Pihape, mihape Wiat Ngaweweratan
    Piker Piker Manah
    Piligenti Piligentos Piligentos
    Pindah Pindah Ngalih
    Pingping Pingping Paha
    Pipi Pipi Damis
    Poe Dinten Dinten
    Poho Hilap Lali
    Potong, popotongan Patilasan Patilasan
    Puasa Puasa Saum
    Puguh, tangtu Tangtos Tangtos, kantenan
    Purun Purun Kersa
    Rarabi Rarabi Garwaan
    Raksa, pangraksa Pangraksa Panangtayungan
    Ramo Ramo Rema
    Rampes Mangga Mangga
    Rasa, rumasa Rumaos Rumaos
    Rea, loba Seueur Seueur
    Receh Receh Artos alit
    Reujeung Bareng Sareng
    Reuneuh Kakandungan Bobot, ngandeg
    Reureuh Reureuh Ngaso
    Rieut Rieut Puyeng
    Ripuh Ripuh Repot
    Robah Robah Robih
    Roko, ududeun Rokok Sesepeun
    Rua, sarua Sarupi, sami Sarupi, sami
    Rusuh, rurusuhan Enggal-enggalan Enggal-enggalan
    Saba, nyaba Nyanyabaan Angkat-angkatan
    Sabot Keur waktu Waktos
    Sabuk, beubeur Beubeur Beulitan
    Sadia Sayagi Sayagi
    Sakeudeung Sakedap Sakedap
    Salah Lepat Lepat
    Salahsaurang Salahsawios Salahsawios
    Salaki Pun lanceuk Caroge, tuang raka
    Salamet Salamet Wilujeng
    Salat, solat Sambeang Netepan
    Salesma Salesma Pileg
    Salempang, hariwang Salempang Salempang, rajeg manah
    Salin, disalin Disalin Gentos
    Samak Amparan Amparan
    Sampak, nyampak Nyampak Nyondong, kasondong
    Samping Sinjang Sinjang
    Sanding, kasanding Kasanding Kasumpingan
    Sanggeus Saparantos Saparantos
    Sanggup Sanggem Sanggem
    Sare Mondok Kulem
    Sarerea Sadayana Sadayana
    Sarta, jeungna deui Sareng Sareng
    Sarua Sami Sami
    Sasarap Sasarap, neda Tuang
    Sawah Sawah Serang
    Sejen Sejen Sanes
    Seleh, nyelehkeun Masrahkeun Nyanggakeun,ngahaturkeun
    Selewer, nyelewer Midua hate Midua manah
    Semah Tamu Tamu
    Sesa, kari Kantun Kantun
    Sebut Sebat Sebat
    Serah, nyerahkeun Mirak Mirak, ngeser
    Seubeuh Sesek Wareg
    Seuri Seuri Gumujeng
    Siar, nyiar Milari Milari
    Sibanyo Sibanyo Wawasuh
    Sirah Sirah Mastaka
    Sirit Larangan Larangan
    Sisir Pameres Pameres
    Soara, sora Sora Soanten
    Sorangan Sorangan Nyalira
    Sore Sonten Sonten
    Sugan, manawi Manawi Manawi
    Suku Suku Sampean
    Sunat, nyunatan Ngabersihan Nyepitan
    Sungut Cangkem Baham
    Supaya Supados Supados
    Surat Serat Serat, tetesan
    Suweng Suweng Kurabu, gwang
    Tabeat Adat Panganggo
    Tadina Awitna, kawitna Kawitna
    Tai Kokotor Kokotor
    Taksir, ngira Nginten-nginten Nginten-nginten
    Taktak Taktak Taraju
    Talatah Wiat saur Wiat saur
    Tambah Tambih Wuwuh
    Tampa Tampi Tampi
    Tanda, ciri Tawis Tawis
    Tangen, katangen Kanyahoan Kauninga
    Tangtung, nangtung Nangtung Ngadeg
    Tanya Taros Pariksa
    Tapi Nanging Nanging
    Tarang Tarang Taar
    Tarima Tampi Tampi
    Tawar, nawar Nawis Mundut
    Tayoh-tayohna Rupina Rupina
    Teang, neangan Milari Milari
    Tenjo, nenjo, nempo Ningal Ningali
    Tepi Dugi Dugi
    Tere Tere Kawalon
    Tereh Enggal Enggal
    Teleg, teureuy Teleg Telen
    Tembang, nembang Nembang Mamaos
    Tepi, nepi Dugi Dugi
    Tepung Tepang Tepang
    Terus Teras Teras
    Teundeun Simpen Simpen
    Tincak Tincak Dampal
    Titah, nitah, jurung Ngajurungan Miwarangan
    Tonggong Tonggong Pungkur
    Topi, dudukuy Topi, dudukuy Tudung, langgukan
    Tulis Tulis Serat
    Tulung, pitulun Pitulung Pitandang
    Tulus Cios Cios
    Tuluy Teras, lajeng Teras, lajeng
    Tumpak Tumpak Tunggang
    Tunggu Antos Antos
    Turun Turun Lungsur
    Ucap Ucap Kedal, lisan
    Ulah Teu kenging Teu kenging
    Ulin Ulin Ameng
    Umur Umur Yuswa
    Urus, nguruskeun Ngalereskeun Ngalereskeun
    Urut Tilas Tilas
    Utama Utami Utami
    Waktu Waktos Waktos
    Wani Wantun Wantun
    Waras Cageur Damang
    Wareh, sawareh Sapalih Sapalih
    Warga, dulur Wargi Wargi
    Watara, sawatara Sawatawis Sawatawis
    Wawuh Wanoh, kenal Kenal
    Wedak Pupur Pupur
    Wedal Wedal Weton
    Wilang, kawilang Kaetang Kaetang
    Wudu Wulu, wudu Abdas

Senin, 20 Februari 2012

Matak Jangar Kana Mastaka.. Cakakak-Cakakak Sajalah.. Hahahaha..

Aaaaaaa... hahaha... babarakatakan saja lah...
Barayaaaaa....

Alah-alah.. jam sabaraha nya skarang? Hahaha.. Sayah rada jangar mastaka baraya. Kaga dapat ngarapatkan mata. Halah....

Tah.. baraya.. Baraya sadayana palay apal jalma-jalma jawa barat mah bahasa cakap-cakap na aya yang namanya bahasa "A".

Palay lancar ngalafal tata bahasa "A" sadayana mah gampang.......Ngan aya syaratna :

Syarat ka Ahad : Banyak-banyak makan bangsa lalab-lalaban, kalapa, ganas, salak ngan jangan sama cangkangna.

Syarat ka Ganda: Jangan makan lalat, laba-laba, cakcak, kadal, bayawak, badak, jarapah dan gajah.

Aya pantanganana: jangan ngajak macan jalan-jalan sabab galak, jangan ngajak macam-macam ka randa tanpa alasan, jangan mawa parawan tanpa kaatraan bapana.

Bala-bala dan Martabak dapat anda makan jang tambahan ngarah lancar kana napas sarta tara ngacay saat ngawacana atawa ngawawancara.

Saya ada saran ngarah atra ngalafal kata-kata "A" sadayana....banyak ngaca, banyak jalan-jalan na kandaraan yang ban na ganda, kandaraan yang ban na ampat, kandaraan panjang, kapal angkasa atawa kapal layar....
Mangga arasaan.

Awas !!! Jangan ngajak baraya, sahabat dan kawan yang cangcaya dan asa-asa...sabab bakal bahaya ngajalananana....

Saya mah lapar. Baham calangap hayang dahar atawa baranghakan. Aya kadaharan? Mana? mana?
Alah gampang kang hayang barang dahar mah daratang saja ka sayah, aya cak cak badag na...papan..candak..am kana baham, bayawak ragrag, kadal jangar, panggang hayam hangat-hangat da kakarak ngangkat, lalab, sambal, tah aya bala-bala ngan dalapan, martabak rasa kacang, kacang na martabak, martabak hangat, kacang hangat, nangka, samangka, nanas ... arasak, salak salapan kakara ngala, kahakanan ala kabarat-baratan dan masakan yang lada-lada ala padang. Mantap.....
Prak dalahar na samak ...!, baraya pada lapar kan? Ngan saacanna maca basmalah malah mandar aya barakah. Mangga...sa aya-aya aja lah...
kalaw anda kadaharan nya apa???? Awas ah jangan ngadahar panggang ajag, kata agama sayah mah haram, ada sabda nya kang, tanyakan sajah sama pakar agama.

Hahaha.. mangga ah baraya.
Kaga nahan sayah nyah cacalangapan aja..
Wakwakwakwakwak...

Cag.

Minggu, 19 Februari 2012

Tragedi Tugu Tani the Movie (Animated Version)

Sampurasun...

Baraya sastra jingga sekalian pasti tau tentang tragedi tugu tani kan? Itu tuh yang tokohnya seorang wanita, Si "Afriyani Susanti" bersama dengan tiga orag temannya. Tragedi yang menewaskan banyak korban ini sangat populer baru-baru ini. Setiap orang pasti sudah mengetahuinya dari televisi ataupun internet. Apa tanggapan baraya tentang kejadian tersebut?

Miris memang ketika mengetahui berita tentang tragedi tersebut. Lepas dari kejadian yang mengegerkan rakyat Indonesia itu banyak pula berita -berita tragedi serupa yang dilakukan oleh orang lain. Na'udzubillah...

screenshoot tugu tani the movie_1
Nnah, di sini astrajingga bukan ingin menceritakan lagi tentang tragedi itu baraya. Astrajingga yakin kalo baraya juga sudah tahu dan tak usah diceritakan lagi. Di sini astrajingga punya sebuah video dari www.youtube.com yang tak sengaja astrajingga lihat ketika sedang menjelajah youtube. Video yang di upload oleh thetruecasper123 yang berdurasi sepanjang 18:08 menit ini adalah sebuah kronologi tragedi tugu tani namun dalam versi animasi. Video ini dibuat dengan menggunakan GTA 4 Video Editor. Jadi jangan aneh bila ada tulisan "Rockstar Games" dan backsoundnya pun khas sound-sound dari game GTA. Latar tempat dalam video ini juga sebenarnya bukan di tugu tani dan sekitarnya (jakarta), namun di Amerika. Tapi, creator memberikan caption pada scene-scene untuk menjelaskan tempat-tempat tragedi tugu tani. Cerita di video ini sedikit di dramatisir dan ditambah action di bagian akhirnya. Walaupun sebenarnya ini agak di dramatisir, tapi mari kita lihat dari aspek lain mengenai video ini. Yuk kita tonton dulu aja.


Gimana baraya?


Bukan maksud untuk menjadikan tragedi ini sebuah tontonan atau melecehkan. Namun mari kita lihat dari aspek lain mengenai video ini.

Sebenarnya keren banget nih yang bikinnya. Iya nggak ? Walaupun hanya dengan menggunakan video editor dari game yang udah ada, namun setidaknya ada satu hal yang perlu di garis bawahi. Orang Indonesia ada yang mampu loh membuat hal seperti ini. Di Indonesia kan udah banyak tuh yang kuliahnya di jurusan programmer, atau kerja di perusahaan pemrograman dan developer game. Jadi kenapa kita harus ngikut ke negara lain terus? Toh ternyata kita udah mampu membuat karya sendiri. Iya kan?

Sekedar saran buat para baraya-baraya yang bisa bikin game atau bikin game dengan game editor kaya gini. Bikin game asli buatan Indonesia ya. Tapi inget game nya yang mendidik loh. Game dengan genre kaya di video ini kayanya kurang pas deh buat gamer di Indonesia. Gamers kita udah keracunin game -game sejenis yang kurang mendidik dari developer luar, jadi sekarang buktikan kalau Indonesia juga bisa menjadi developer game dengan spesifikasi yang berkualitas namun mempunyai unsur yang mendidik. Game apa ya kira-kira? Ayo... yang punya ide, silahkan berikan idenya kepada para ahli pembuat game dan programmer di negara kita. Kita ini negara pintar, so... Let's show it! Kalau astrajingga sih ga bisa nih untuk urusan teknologi kaya gini. Astrajingga hanya user bukan developer, namun astrajingga akan mendukung baraya sekalian yang ingin menciptakan karya sendiri. Kita membuat karya bersama walaupun dalam bidang yang berbeda. Ciptakan karya-karya terbaik bangsa sesuai dengan kemampuannya masing-masing dan mari kita tunjukkan pada dunia! ^_-

Sabtu, 18 Februari 2012

Uga Wangsit Siliwangi

prabu siliwangi
Antara ramalan jeung kanyataan….

Ieu uga teh eusina ramalan ngeunaan jalan kahirupan politik jeung pamarentahan nagara urang ti kawit tilemna Pajajaran tug dugi ka kiwari. Dina ieu uga urang sarerea bakal bisa nyaksian kumaha kalinuhungan elmu Prabu Siliwangi anu geus bisa nganjang ka pageto saperti anu bisa nganyahoankeun kana kajadian anu bakal tumiba ka sakumna rahayat sunda khususna jeung Indonesia umumna. Kumaha ari sikep urang, naha kudu percaya atawa ulah? Ngeunaan hal ieu mah baralik deui ka pribadi masing-masing. Ngan anu kudu ku urang sarerea diemutan, ieu uga teh salah sahiji warisan karuhun sunda anu kacida berhargana.

Carita Pantun Ngahiangna Pajajaran 
Pun, sapun kula jurungkeun
Mukakeun turub mandepun
Nyampeur nu dihandeuleumkeun
Teundeun poho nu baréto
Nu mangkuk di saung butut
Ukireun dina lalangit
Tataheun di jero iga!


Saur Prabu Siliwangi ka balad Pajajaran anu milu mundur dina sateuacana ngahiang : “Lalakon urang ngan nepi ka poe ieu. Najan dia kabehan ka ngaing pada satia, tapi ngaing henteu meunang mawa dia pipiluen, ngilu jadi balangsak, ngilu rudin bari lapar.(((((Kalalakonkeun Prabu Siliwangi Raja Pajajaran dina waktos bade mundur, tapi satueacana mundur, Prabu Siliwangi masihan amanat ka sakumna wadia balad Pajajaran anu masih keneh satia. Didieu Prabu Siliwangi mintonkeun tanggung jawab sareng kawijaksanaan anu kacida luhung salakuning Raja, anjeuna teu bade ngalibetkeun rahayat pikeun tetep tumut sareng ngabdi mertahankeun Pajajaran tapi bari kaayaan sangsara. Prabu Siliwangi nyarios…………)))))Dia mudu marilih, pikeun hirup kahareupna, supaya engke jagana jembar senang sugih mukti, bisa ngadegkeun deui Pajajaran. Lain Pajajaran nu kiwari, tapi Pajajaran anu anyar, nu ngadegna digeuingkeun ku obahna jaman;Pilih: ngaing moal ngahalang-halang. Sabab pikeun ngaing, henteu pantes jadi raja amun somah sakabehna lapar bae jeung balangsak.

Darengekeun:Nu dek tetep ngilu jeung ngaing, geura misah ka beulah kidul;
Anu hayang balik deui ka dayeuh nu ditinggalkeun, geura misah ka beulah kaler;Anu dek kumawula ka nu keur jaya, geura misah ka beulah wetan;Anu moal milih ka saha-saha, geura misah ke beulah kulon;(((((Prabu Siliwangi masihan papagon ka sakumna wadia balad, pikeun milih geusan hirup lumaku sabadana Pajajaran tilem. Prabu Siliwangi ngabagi wadia balad pikeun milih/misah ka opat arah :Ka wadia balad anu masih tetap satia, kudu misah ka beulah kidul. Dina ieu uga, aya kamungkinan kidul (selatan) dihartoskeun wilayah priangan timur nyaeta wewengkon Ciamis, Tasikmalaya, Garut sabab ti ieu wewengkon asal lahirna Pajajaran (Galuh Ciamis) terus ngalih ka Tasikmalaya, ti Tasikmalaya teras ka Bogor.Ka wadia balad anu seja balik ka dayeuh (kota) anu ditinggalkeun, Prabu Siliwangi marentahkeun kanggo misah ka beulah kaler. Dina ieu uga, aya kamungkinan kaler dihartoskeun wilayah Bandung, Bogor jeung Sumedang, nya didieu pisan tempat ngadegna Karajaan Pajajaran (Bogor), anapon Sumedang dugi ka kiwari ieu wewengkon teh masih satia nyekel deleg jeung nanjeurkeun kabudayaan Sunda dina wangun seni, budaya sareng carita kasundaan anu masih keneh asli titinggal Karajaan Pajajaran.Ka wadia balad anu seja kumawula kanu keur jaya, Prabu Siliwangi marentahkeun misah ka beulah wetan. “Ka nu keur jaya”, ieu kecap teh nunjuk ka karajaan Majapahit di wewengkon Jawa anu mangsa harita keur jaya-jayana ngawasa saantero nusantara. Tug dugi ka kiwari wadia balad Majapahit (urang Jawa) masih tetep ngawasa di Nusantara utamana dina widang politik jeung pamarentahan, nya sabagianna aya oge balad Pajajaran anu milu. Malah nu lain urang Jawa mah sok ngaheureuykeun yen nagara Indonesia mah teu aya, aya ge nagara Jawa, atanapi luar Jawa tapi di Jawakeun (Jawanisasi). Keur jalma nu diajar sajarah katut neuleuman elmu-elmu sosial ieu geus aneh..sabab salah sahiji bibit ruwit muculna masalah separatisme teh nya ieu poko pangkalna.


Ka wadia balad anu moal milih ka saha-saha, geura misah ka beulah kulon.Kulon didieu nyaeta wewengkon beulah kulon Jawa Barat, utamana Banten. Nya wadia balad anu milih teu milih ka saha-saha antuknya misah tur ngahiji dina ieu wewengkon, aya kamungkinan anu dimaksad ku Prabu Siliwangi teh nyaeta masyarakat Baduy anu dugi ka kiwari masih hirup kalayan nyekel pageuh kana papagon karuhun, malah agamana oge masih agama asli, Sunda Wiwitan.)))))Darengekeun:(((((Dina bagean ieu, Prabu Siliwangi masihan pepeling ka sakumna wadia balad Pajajaran.)))))

Dia nu di beulah wetan, masing nyararaho : kajayaan milu jeung dia; nya turunan dia anu engke bakal marentah ka dulur jeung ka batur. Tapi masing nyaraho, arinyana bakal kamalinaan. Engke bakal aya balesna. Jig geura narindak !(((((Ieu pepeling Prabu Siliwangi teh dugi ka kiwari ku urang bisa kasaksian. Anu jadi pamingpin di nagara urang lolobana urang Jawa. Sukarno, Suharto, Gus Dur, Megawati, SBY sadayana urang wetan (Jawa). Anapon kitu deui anu nyekel kakawasaan marentah di pamarentahan puseur oge kalolobaanna urang Jawa. Ngan hanjakal ieu pamingpin turunan wetan teh memang bener-bener “kamalinaan” jeung goreng tungtung, di ahir kakawasaanna sok dijungkirkeun batur (suul khotimah); Sukarno, Suharto, Gus Dur, Megawati di ahir waktu kakawasaannana ngajuralit ku cara anu teu terhormat. Mun ningali kana sajarah, bangsa urang mah jiga anu disupata, jalma loba nu silih ala pati jeung silih rogahala pikeun marebutkeun kakawasaan. Urang tangtu masih inget kumaa Ken Arok ngala pati empu anu nyieun keris pusaka ku lantaran hayang jadi raja singosari? Anu antukna mah singosarina ancur, manehna nelasan pati ku kerisna sorangan. Ieu jalma ti wetan teh jaradi pamingpin anu luhur tapi kahirupan rahayat susah jeung balangsak wae)))))Dia nu di belah kulon; papay ku dia lacak Ki Santang! Sabab engkena turunan dia jadi panggeuing ka dulur jeung ka batur. Ka batur urut salembur, ka dulur anu nyorang sauyunan, ka sakabeh nu rancage di hatena.Engke jaga mun tengah peuting, ti gunung Halimun kadenge sora tutunggulan, tah eta tandana : saturunan dia disasambat ku nu dek kawin di Lebak Cawene. Ulah sina talangke. Sabab talaga bakal bedah; Jig, geura narindak ! Tapi ulah ngalieuk ka tukang !

(((((Wadia balad anu misah ke beulah kulon, bisa ku urang dititenan tug dugi ka kiwari ariyana teu kabawa ku sakaba-kaba, ariyana tetep teguh teu milu jeung teu di parentah ku sasaha. Najan nu marentah ieu nagara wadia balad ti Wetan, ariyana mah teu pernah bener-bener bisa ditalukeun, makana ariyana dina nyorang kahirupan teh pinuh ku katengtreman, jauh tina mumusuhan, cocok mun jadi panggeuing ka batur anu keur ka sasar lampah.Ari anu dimaksud “papay ku dia lacak ki Santang” ieu ngenaan kana sajarah Kiansantang, putra mahkota Prabu Siliwangi anu lebet Islam. Ki Santang dina uga ieu oge bisa ditafsirkeun umatna Rasulullah SAW ngalangkungan Prabu Kian Santang anu napak tur nagajalankeun ajaran Sunan Kalijaga (Banten) sareng Sunan Gunung Jati (Cirebon). Perlu oge diemut yen alur sajarah Kaislaman di tatar Pasundan teu tiasa di leupaskeun tina dua Kasultanan ieu, Banten jeung Cirebon. Kasultanan Banten ciri utamana Islam kalawan disipuh ku elmu pangaweruh kadigjayaan sedengkeun Cirebon corak Kaislaman anu disipuh ku elmu kabatinan, mirip corak Kaislaman di tanah Jawa. Ku kituna tong heran mun wadia balad Pajajaran anu aya di beulah kulon miboga warisan elmu pangaweruh anu langka dipiboga ku wadia balad anu lian.Ngan ngeunaan siloka ti gunung halimun…………… eta dugi ka ayeuna can tiasa kabuka maksudna)))))Dia nu marisah ka beulah kaler; darengekeun!Dayeuh ku dia moal kasampak, ngan ukur tegal baladeuhan.

Turunan dia, lolobana bakal jadi somah. Mun aya nu pangkat, bakal luhur di pangkatna, tapi moal boga kakawasaan. Ariyana engke jaga, bakal kasendeuhan batur. Loba batur tinu anggang tapi batur nu sarusah jeung batur nu nyusahkeun. Sing waspada!(((((Kecap Prabu Siliwangi ieu geus bisa dibuktikeun dina alam kiwari. Bandung, Bogor, Sumedang, dugi ka Bekasi, depok, Jakarta, tempat wadia balad Pajajaran di beulah kaler ayeuna geus jadi salah sahiji wewengkon pendidikan, pusat bisnis Jawa Barat jeung ibukota nagara. Didieu ngadeg mangrupa-rupa Universitas/Institut/Sekolah Tinggi tingkat Daerah/Nasional/Internasional. Wewengkon kaler ayeuna geus loba kasendeuhan (kadatangan) batur, jutaan mahasiswa jeung pendatang anu ti siklakna ti siklukna, anu ti jero pulau anu ti luar pulau dugi ka luar nagri tumplek ngahiji di wewengkon ieu. Ari wadia balad Pajajarana kamarana? Jaradi somah (semah=nu boga imah tapi teu boga nanaon, ngan saukur bisa ningalikeun batur). Ngeunaan pangkat? Loba terah Pajajaran ti beulah kaler –utamana sumedang– anu luhur di pangkatna, malah aya anu jadi wakil presiden ngan hanjakal teu boga kakawasaan anu nyata, teu bisa mere parentah anu ditumut ku saeusi nagara, sabab kakawasaan tetep di cekel ku urang wetan (Jawa))))).Sakabeh turunan dia ku ngaing bakal dilanglang. Tapi, ngan di waktu nu perlu. Ngaing bakal datang deui, nulungan nu barutuh, mantuan anu sarusah, tapi ngan anu hade laku lampahna. Mun ngaing datang moal kadeuleu, mun ngaing nyarita moal kadenge.Memang ngaing bakal datang. Tapi ngan ka nu geus rancage hatena, kanu weruh disemu anu saestu, anu ngarti kana wangi nu sajati jeung nu surti lanti pikirna, nu hade laku lampahna.(((((Ieu kecap Prabu Siliwangi teh ngagaduhan maksad yen prabu Siliwangi jeung Pajajaran bakal tetep hirup dugi ka kiwari ngan lain dina wujud bungkeuleukan (jasadiah) tapi dina wangun tetap lestarina sajarah jeung elmu pangarti kasundaan warisan ti karuhun-karuhun sunda. Tapi ieu elmu kasundaan teh moal bisa sambarangan dipibanda, teu sakabeh wadia balad Pajajaran bakal mampuh ngawasa sajarah jeung ngarti kana ieu elmu. Ngan saukur jalma anu ngabogaan hate anu bersih tur pinuh ku sumanget (rancage hatena); ngabogaan elmu jeung pangabisa anu luhung (dunya & agama) (weruh disemu); pinter tapi heunteu guminter jeung kabalinger, ngarti kana sajatina elmu, ngabogaan kawijaksanaan anu luhur, jeung ka nu ngabogaan pola pikir anu cerdas tur bener-bener ngarti kana masalah anu aya (surti lanti pikirna) jeung nu hade laku lampahna. Jelas didieu ngan wadia balad anu bisa nyumponan eta syarat anu bakal miboga kakuatan jeung kawijaksanaan sapertos Prabu Siliwangi, jadi ruh Pajajaran moal turun jeung dipiboga ku sambarangan jalma sanajan urang sunda oge, da teu sakabeh urang sunda ngabogaan eta ciri. Singketna ngan wadia balad anu geus kabuka hijabna anu bakal didatangan ku kawijaksanaan Prabu Siliwangi ))))).
kujang

Mun ngaing datang : teu ngarupa teu nyawara, tapi mere ciri ku wawangi. Ti mimiti poe ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit ngarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti nu kari, bakal rea nu marungkir!(((((Pajajaran dina wangkit ieu TILEM. Tilem hartina leungit tanpa lebih, ilang tanpa karana. Pajajaran runtuh tapi runtuh lain diancurkeun atawa dielehkeun ku karajaan/bangsa sejen termasuk ku Majapahit (wetan). Pajajaran leungit ku sabab hayang leungit. Ku kituna mun dina sajarah ayeuna disebutkeun yen Mahapatih Gadjah Mada ti karajaan Majapahit geus hasil ngahijikeun Nusantara dina raraga ngawujudkeun sumpah palapa. Eta salah!! Aya hiji karajaan anu teu bisa ditalukeun ku Gadjah Mada nyaeta Pajajaran. Dina naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara II/2 dilalakonkeun yen sawaktos Perang Bubat (perang antawis Pajajaran ngalawan Majapahit) Sri Baduga gegentos Prabu Wangi (anu salajengna katurunannana disebat Prabu Siliwangi) seeur ngabinasakeun musuhna, kumargi sang Prabu Maharaja salian ti pinter dina elmu perang oge pinter dina ngagunakeun rupa-rupa elmu senjata, Sang Prabu Maharaja teu hoyong mun nagarana (Pajajaran/Jawa Barat) diparentah tur dijajah ku bangsa lian. Antukna Sang Prabu Maharaja gugur sareng sadaya baladna di medan perang, tapi Mahapatih Gajah Mada oge kawon lantaran tatu ku keris Putri Dyah Pitaloka, anu eta tatu moal bisa dicageurkeun (ngeunaan sajarah Perang Bubat aya fakta anu diputer balik, tapi alhamdulillah geus aya sumber ti salah saurang tokoh Sunda anu menerkeun deui kana jalan sajarah Kasundaan, langkung jelasna mah ku sim kuring bakal diserat ulang dina ieu blog). Tapi kanyataan ieu teh bakal ditampik, bakal loba anu marungkir utamana nu di beulah wetan, sajarah bakal di puter balik, sanajan loba bukti anu kuat teu dipalire )))))Tapi, engke jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya nu laleungit kapanggih deui, nya bisa, ngan mapayna kudu make amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu aing pangpinterna. Mudu aredan heula.Engke bakal rea nu kapanggih, sabagian-sabagian. Sabab kaburu dilarang ku nu disebut Raja Panyelang.(((((Dina mangsa ieu, bakal aya anu nyoba-nyoba deui pikeun ngumpulkeun sajarah jeung elmu warisan karuhun, nya bisa bakal kaparanggih deui tapi anu mapay eta elmu karuhun teh kudu jalma anu handap asor teu umaki asa aing pangpinterna (mapayna kudu make amparan). Ieu jadi hiji jawaban ku naon kolot-kolot urang baheula boga elmu anu luhung kadang teu kaharti ku pikir teu kahontal ku akal da meureun waktu diajarna dibarengan ku sikep paripolah jeung hate anu bersih karena Allah (make amparan). Karuhun urang baheula mah boga elmu linuhung tapi leumpang tetap tungkul ka bumi. Ari jalma jaman ayeuna? Boga elmu saeutik ge leumpangna geus dangah ka langit bari nangtang nu kawasa.Saha ari nu dimaksud raja panyelang? Aya kamungkinan raja-raja ti Karajaan Majapahit, sabab salah sahiji raja anu mashur kalayan ngabogaan karajaan anu bisa ngawasa saantero nusantara ngan karajaan Majapahit. Jeung mun nitenan kecap “raja panyelang”, berarti ieu raja teh moal lila kakawasaana, sabab bakal digantikeun ku raja sejen)))))Aya nu wani ngorehan terus, teu ngahiding ka panglarang; ngorehan bari ngalawan, ngalawan bari seuri, Nya eta budak angon; imahna di birit leuwi, pantona batu satangtung, kahieuman ku handeuleum, karimbunan ku hanjuang.Ari ngangona ?Lain kebo lain embe, lain meong lain banteng, tapi kalakay jeung tutunggul. Iyana jongjon ngorehan, ngumpulkeun anu kapanggih. Sabagian disumputkeun, sabab acan wayah ngalakonkeun. Engke mun wayah jeung mangsana, baris loba nau kabuka jeung rareang marenta dilalakonkeun.

(((((Tapi sanajan dilarang ku raja panyelang, aya anu tetep wani ngorehan sajarah jeung elmu karuhun. Saha? Nyaeta budak angon. Saha ari ieu budak angon…ke bakal coba diterangkeun dina bait anu saterusna, sabab kecap budak angon teh sababaraha kali dikedalkeun ku Prabu Siliwangi. Ieu budak angon teh kacida istimewa, sabab kagolong salah sahiji anu didatangan ku Prabu Siliwangi kusabab ngabogaan ciri-ciri anu disebutkeun ku Prabu Siliwangi)))))Tapi mudu ngalaman loba lalakon, anggeus nyorang : undur jaman datang jaman, saban jaman mawa lalakon. Lilana saban jaman, sarua jeung waktu nu nyukma, ngusumah jeung nitis, laju nitis dipinda sukma.(((((Saban jaman aya pangeusina sewang-sewangan, tiap jaman boga lalakon; eta lalakon bakal ganti mun jaman oge ganti (conto : lalakon di tahun 60-an moal sarua jeung di taun 2010 boh dina model pakean, gaya hirup, jll) Ku kituna tinggal pilih urang anu kudu bisa ngigeulan jaman atawa urang anu bisa ngigeulkeun jaman. Naha jaman anu ngatur lalakon atau sabalikna lalakon anu ngatur jaman? Tapi kadang kaayaan di hiji jaman sok kaalaman deui dina jaman sejen. Contona : di taun 60-an rahayat urang loba nu ngantri sembako, kusabab jaman anu werit. Kaayaan itu karandapan dina mangsa reformasi dimana rahayat kudu ngantri minyak jeung sembako)))))Darengekeun !Nu kiwari ngamusuhan urang, jaradi rajana ngan bakal nepi ka mangsa : “tanah bugel sisi Cibantaeun dijieun kandang kebo dongkol.”Tah didinya, sanagara bakal jadi sampalan, sampalan kebo barule, nu diangon ku jalma jangkung nu tutunjuk di alun-alun. Ti harita, raja-raja dibelenggu.Kebo bule nyekel bubuntut, turunan urang narik wuluku, ngan narikna henteu karasa sabab murah jaman jeung seubeuh hakan.(((((Dina mangsa ieu, mimiti kaum penjajah datang ka nagara urang, dimimitian ku Portugis, Inggris terus Belanda, mimitina mah ieu penjajah teh ngan datang pikeun dagang tujuana mah rek ka Maluku tapi eureun heula di Banten (tanah bugel sisi Cibantaeun dijieun kandang kebo dongkol). Tapi antukna mah sanagara jadi dijajah (sanagara jadi sampalan, sampalan kebo barule), ieu penjajah teh diparentah ku para menir/gubernur jangkung anu marentah di puseur kota tempat pamarentahan (alun-alun), ti harita raja-raja urang teu bisa walakaya. Para bupati/demang bangsa urang tetep marentah tapi dikendalikeun ku penjajah (kebo bule nyekel bubuntut, turunan urang narik wuluku) tapi bangsa urang pasrah sabab penjajah jeung pamingpin pribumi masih merhatikeun sandang jeung pangan kabutuhan rahayat. Numutkeun ahli-ahli sajarah, Belanda teh salah sahiji penjajah anu pinter, manehna ngajajah tapi awalna rahayat teu loba nu sadar jeung ngalawan kusabab manehna ngajajah ngamangfaatkeun pamimpin-pamimpin pribumi di tingkat handap saperti bupati, wadana, demang, jsb; jadi keur rahayat mah asa teu dijajah. Ieu ngabuka hiji rahasia kunaon elmu-elmu karuhun sunda teh sok jiga anu disumputkeun, karuhun urang tara ngajarkeun elmu sacara terang-terangan, tapi sok dibungkus jeung disumputkeun dina wangun siloka, kawih, pupuh, uga, jrr. Kusabab? Sabab saha wae anu kapanggih ngawariskeun elmuna bakal dirogahala ku penjajah. Jadi, didieu penjajah teh henteu bodo, urang Belanda teh geus apaleun kana bahayana lamun eta elmu-elmu warisan karuhun sunda teh nepi ka sumebar)))))Ti dinya, wuluku ditumpakan kunyuk; laju turunan urang aya nu lilir. Tapi lilirna cara nu kara hudang tina ngimpi. Ti nu laleungit, tambah loba nu kapangih, tambah loba nu manggihna. Tapi loba nu pahili. Nya kabawa nu lain mudu diala.!
Turunan urang loba nu henteu engeuh, yen jaman ganti lalakon !Ti dinya gehger sanagara. Panto nutup di buburak ku nu ngalanteur pamuka jalan; tapi jalan nu kasingsal.Nu tutunjuk nyumput jauh; alun-alun jadi suwung, kebo bule kalalabur : laju sampalan nu diranjah monyet!(((((Mangsa ieu jaman ganti deui lalakon! Bangsa Jepang (kunyuk) datang, ku bangsa urang dibageakeun, dianggap pahlawan jeung dulur kolot bakal ngabebaskeun tina penjajahan Belanda, Bangsa urang ngadukung Jepang pikeun ngalawan tur ngabuburak Belanda, tapi nyata salah sabab Jepang oge sabenerna sarua datang ka nagara urang teh rek ngajajah (panto nutup di buburak ku nu ngalanteur pamuka jalan; tapi jalan nu kasingsal). Penjajah Belanda kalabur ka nagarana, ayeuna ganti anu ngawasa bangsa urang teh monyet (Jepang))))))Turunan urang ngareunah seuri, tapi seuri henteu anggeus, sabab kaburu : warung beak ku monyet, leuit beak ku monyet, kebon beak ku monyet, sawah beak ku monyet, huma di acak-acak ku monyet, cawene rereuneuh ku monyet. Sagala-gala diranjah ku monyet. Turunan urang sieun ku niru-niru monyet.“Panarat” dicekel ku monyet bari diuk dina bubuntut. Wulukuna ditarik ku turunan urang keneh. Loba nu paraeh kalaparan.(((((Bangsa urang atoh pisan (ngeunah seuri) sabab ku kadatangan Jepang lir ibarat geus bisa bebas tina penjajahan Belanda. (Tapi seuri henteu anggeus) sabab bangsa urang kakara sadar yen ieu bangsa Jepang teh sarua datangna kadieu teh rek ngajajah oge, malahan leuwih garang, sagala anu aya di bangsa urang dibadog, dirampog, tuluy diangkut. Hasil kebon, sawah, huma dipaling. Bangsa urang dijajah tur dikandalikeun deui ku Jepang, nepi ka rahayat urang loba anu nelasan pati lantaran jaradi romusha. Bangsa urang ayeuna ganti anu ngandalikeun, bangsa Jepang anu marentah (panarat dicekel ku monyet) )))))Ti dinya, turunan urang ngarep-ngarep pelak jagong, sabari nyayahoanan maresek caturangga. Henteu arengeuh, yen jaman geus ganti deui lalakon.Laju hawar-hawar, ti tungtung sagara kaler ngaguruh, galudra megarkeun endog. Genjlong saamparan jagat!

(((((Ti dinya bangsa urang ngayakeun perlawanan ku cara fisik jeung diplomasi, sabari eta bangsa urang geus mimiti nyobaan nyusun dasar nagara – nyaeta Pancasila ayeuna – lamun engke merdeka (nyanyahoanan maresek caturangga), tapi penjajahan ku ieu Jepang teh teu pati lila ngan saukur 3,5 tahun (ngarep-ngarep pelak jagong, umur jagong dikiaskeun 3,5 bulan = 3,5 taun). Jaman bakal ganti deui lalakon! Iraha? Saeunggeus Sekutu anu dipimpin ku Amerika nurunkeun bom Atom di Hiroshima jeung Nagasaki (ti tungtung sagara kaler ngaguruh = posisi jepang lamun di tingali dina peta ayana dina kalereun Indonesia, jauh di tuntung samudera pasifik) (galudra = lambang nagara Amerika –anu mangsa harita jadi pimpinan sekutu, komandana Laksamana Eisenhower– mangrupa manuk garuda, megarkeun endog = nurunkeun bom atom nepi ka ngaratekeun ieu 2 kota penting kakaisaran Jepang). Numutkeun panuturan saksi anu ngalaman eta mangsa, saking rohakana eta bom atom, gempana nepikeun ka karasa Indonesia = genjlong saamparan jagat!). Ieu kajadian teh bisa muterbalikeun kanyataan anu tadina penjajah Jepang anu ngawasa ayeuna sekutu anu ngawasa, peta kakawasaan perang dunya robah).)))))Ari di urang !Rame ku nu mangpring. Prang-pring sabulu-bulu gading. Monyet ngumpul ting rumpuyuk. Laju ngamuk turunan urang; ngamukna teu jeung aturan.Loba nu paraeh teu boga dosa. Puguh musuh, dijieun batur ; puguh batur, disebut musuh.gadak-ngadak loba nu pangkat nu marentah cara nu edan. Nu bingung tambah baringung ; barudak satepak jaradi bapa. Nu ngaramuk tambah rosa ; ngamukna teu ngilik bulu. Nu barodas di buburak, nu harideung disieuh-sieuh. Mani saheng buana urang, sabab nu ngaramuk, hanteu beda tina tawon, dipalengpeng keuna sayangnya.Sanusa dijieun jagal. Tapi, kaburu aya nu nyapih; nu nyapihna urang sabrang.(((((Ari di nagara urang, rame ku anu kabur, kabur sajadi-jadina, tentara Jepang teu walakaya, serah bongkokan ka Sekutu (monyet ngumpul ting rumpuyuk). Sawareh aya anu balik kabur ka nagarana, sawareh tetep cicing di nagara urang sabab wirang mun balik bari eleh. Ari bangsa urang? Ngamuk nguwak-ngawik males ka bangsa Jepang, tapi hanjakal deui loba anu salah sasaran sabab bangsa urang salian kudu nyanghareupan jepang oge kudu nyanghareupan Sekutu anu ngabonceng Belanda ditambah ku lobana pemberontakan di jero nagri anu asalna mah balad urang tadina. Republik ieu jadi tempat jagal jeung sampalan perang anu rohaka. Tapi….kaburu aya nu nyapih nyaeta bangsa luar make jalur perundingan (Linggarjati, KTN, Renville, sakabehna di sapih ku urang luar : Amerika, Australia, Belgia, jst).)))))Laju ngajeg deui raja, asalna jalma biasa. Tapi memang titisan raja. Titisan raja baheula jeung biangna hiji putri pulau dewata. Da puguh titisan raja; raja anyar hese apes ku rogahala!(((((Anu di maksud RAJA dina ieu bait teh nyaeta SUKARNO, presiden ka hiji RI. Anjeunana memang jalma biasa tapi sabenerna asli turunan raja. Ibuna I Dayu Nyoman Rai asalna ti Pulau Dewata (Bali) turunan Raja Singaradja anu ngayakeun perang Puputan ngalawan kakawasaan Belanda (baca : Sukarno An Autobiografi As Told by Cindy Adam). Sedengkeun ramana Raden Sukemi Sastrodiningrat, nyaeta turunan raja/sultan ti Kediri. Ku kituna Sukarno teh memang bener-bener titisan raja anu hese dirogahala jeung bakal mimpin rahayat ngalawan penjajah.)))))

Ti harita, ganti deui jaman. Ganti jaman ganti lalakon; Iraha? Henteu lila, anggeus tembong bulang ti beurang, disusul kaliwatan ku bentang caang ngagenclang. Di urut nagara urang, ngadeg deui karajaan. Karajaan di jeroeun karajaan jeung rajana lain tuereuh Pajajaran.(((((Proklamasi Kamerdekaan RI (bulan ti beurang = bulan ramadhan; bulan sucina umat Islam) Proklamasi poe jumaah jam 10 isuk-isuk (bentang caang ngagenclang). Dugi ka kiwari Bentang jeung Bulan sok dijieun simbol anu aya patula patalina jeung Islam.Dina ieu bait, anu dimaksud karajaan di jeroeun karajaan teh nyaeta Darul Islam (DII/TII) pimpinan S.M. Kartosuwiryo anu boga maksud pikeun ngadegkeun Negara Islam Indonesia, Kartosuwiryo memang lain turunan ti Pajajaran. Tapi ieu nagara anyar teh bisa ditumpes ku Siliwangi jeung rahayat Jawa Barat ku jalan ngayakeun pager bitis.)))))Laju aya deui raja, raja buta nu ngadegkeun lawang nu teu meunang dibuka, nangtungkeun panto teu beunang di tutup, nyieun pancuran di tengah jalan. Miara heulang dina caringin.Da raja buta ! Lain buta duruwiksa, tapi buta henteu neuleu, buaya eujeung ajag, ucing garong eujeung monyet ngorowotan somah nu susah. Sakalina aya nu wani ngageuing : nu diporog mah lain satona, tapi jelema anu ngelingan.(((((Saha ieu raja anyar teh? Saha deui lamun lain SUHARTO…Inyana geus ngadegkeun karajaan sorangan anu sawenang-wenang (otoriter), marentah kumaha aing. Loba anu jaradi korban, rahayat jeung tokoh anu nyobaan ngelingan malah dituduh rek ngalawan ka nagara (subversif), eta jalma ditewak (diporog) terus diasupkeun kana pangberokan (panjara). Miara heulang dina caringin (heulang = pancasila, caringin = salah sahiji partai anu gambarna caringin). Jadi ieu raja teh jadi kuat ku sabab make tameng pancasila anu didukung ku partai caringin.)))))Mingkin hareup mingkin hareup, loba buta nu baruta, naritah deui nyembah berhala. Laju bubuntut salah nu ngatur, panarat pabeulit dina cacadan ; da nu ngawulukuna lain jalma tukang tani. Nya karuhan : tarate hepe sawareh, kembang kapas hapa buahna; buah pare loba nu asup kana aseupan …Da bonganna, nu ngebonna tukang barohong ; nu tanina ngan wungkul jangji ; nu palinter loba teuing, ngan pinterna kabalinger.(((((Ieu buta anu dipimpin ku Raja anyar teh beuki ngagalaksak, KKN geus jadi budaya anyar. Kakawasaan jeung harta dunya geus jadi berhala anyar, anu terus dikumpulkeun, diteangan tur disembah. Nagara anu meunang hese cape merjoangkeun teh jadi awut-awutan teu pararuguh kusabab nagara loba dicekel ku jalma lain ahlina, ulama loba nu kasasar lampah kabadi ku elmuna, tentara malik jadi musuh rahayat sabab milu ancrub ka politik (bubuntut salah nu ngatur, panarat pabeulit dina cacadan, da nu ngawulukuna lain jalma tukang tani), cindekna mah ieu raja teh loba salah nendeun jalma (henteu teh right man on teh right place).

Di jaman ieu raja, para pamingpina teh ngan ukur bisa ngabohong jeung ngobral janji, rahayat di jangjikeun rek kitu-rek kieu (kampanye) ari geus kapilih mah rahayat teu dipalire sama sakali. Loba jalma pinter, tapi pinterna kabalinger, bisana ngan nipu jeung ngabobodo rahayat anu memang bodo).)))))Ti dinya datang budak janggotan. Datangna sajamang hideung, bari nyoren kaneron butut, ngageuingkeun nu keur sasar, ngelingan ka nu paroho. Tapi henteu diwawaro !Da pinterna kabalinger, harayang meunang sorangan. Arinyana teu arengeuh, langit anggeus semu beureum, haseup ngebul tina pirunan.Boro-boro dek ngawaro, malah budak janggotan, ku ariyana di tewak diasupkeun ka pangberokan. Laju ariyana ngawut-ngawut dapur batur, majarkeun neangan musuh; padahal ariyana nyiar-nyiar pimusuheun. Sing waspada ! Sabab engke ariyana, bakal nyaram Pajajaran di dongengkeun. Sabab sarieuneun kanyahoan, saenyana ariyana anu jadi gara-gara sagala jadi dangdarat.(((((Dina mangsa ieu aya sabagean kalangan Islam (tokoh ulama/ustad=budak janggotan) anu nyobaan ngelingan ka raja anu keur sasar. Tapi eta raja anu keur sasar teh tibatan nurut malah malik ngewa, eta budak janggotan teh ditewak tuluy diasupken ka penjara. Ieu balad raja buta memang lolobana pinter kabalinger, kapinterannana dipake jang nindes rahayat. Maranehannana teu sadar yen kajayaan sakeudeung deui bakal runtuh, jaman bakal robah. Sabab rahayat anu kuciwa bakal nungtut ieu raja ngarah diturunkeun.“Nyaram Pajajaran di dongengkeun” ieu geus jadi rahasia umum, yen di jaman Suharto hampir kabeh sajarah teh loba anu kasingsal, loba anu dijiuen salah, loba anu diputerbalikeun keur kapentingan jeung kakawasaannana. Sajarah anu asli tur lempeng bener satekah polah dihalangan atawa dileungitkeun (sejarah Supersemar, Sejarah Gerakan G30S/PKI, sajarah Perang Bubat, jrr). Sabab lamun ieu sajarah kabuka terus dilempengkeun deui, maka raja Buta bakal kanyahoeun sagala talajak gorengna, sabab manehanana anu sabenerna jadi pangkal sabab kaancuran ieu nagara.)))))Buta-buta nu baruta; mingkin hareup mingkin bedegong, ngaleuwihan kebo bule. Ariyana teu nyaraho, yen harita teh jaman geus asup kana jaman : jaman sato. Jaman manusa dikawasaan ku sato !Jayana buta-buta henteu pati lila; tapi, bongan kacida teuing nyangsara ka somah, loba somah anu pada ngarep-ngarep caringin rentas di alun-alun. Buta bakal jaradi wadal, wadal pamolahna sorangan.(((((Ieu buta-buta balad raja buta sasar teh beuki ngagalaksak wae, kalakuanna dina nyangsarakeun rahayat teh estuning geus ngaleuwihan para penjajah bangsa deungeun anu baheula ngajajah urang. Ieu jaman memang teu beda ti jaman sato, hukum anu aya ngan hukum rimba, halal-haram geus teu dipalire, anu aya buta-buta teh terus-terusan ngumpulkeun harta jeung kakawasaan. Tapi……..rahayat anu geus teu tahan mimiti ngalawan, tahun 1998 partai caringin jeung sagala kakawasaannana runtuh, di mimitian di Jakarta (gedong MPR) terus ngarembet ke saantero nusantara (caringin reuntas di alun-alun). Ieu raja buta diturunkeun sacara paksa. Buta-buta anu baheula kawasa teh antukna mah ayeuna jaradi wadal, wadal pamolahna sorangan, aya anu ditewak di asupkeun ka pangberokan, aya anu ngajuralit tina kakawasaanana.)))))

Iraha mangsana ?Engke mun geus tembong budak angon !(((((Saha anu di maksud budak angon dina bagean ieu? Nyaeta teu lian para reformis jeung mahasiswa anu dipimpin ku tokoh reformasi, ieu tokoh reformasi anu memang ti baheula oge teu resep ka ieu raja buta tur terus-terusan ngalawan. Tapi saha anu dimaksud budak angon (tokoh reformasi) dina ieu bait? Teu kauninga sacara pasti, sabab budak angon mah tara nembongkeun diri, tapi inyana ngabogaan pangaruh anu luar biasa keur rahayatna.Ti dinya loba nu ribut; mimiti ti jero dapur, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara!Nu barodo jaradi gelo marantuan nu garelut, di kokolotan ku budak buncireung !Matakna gareleut? Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang panglobana; nu teu hawek hayang loba; nu boga hak marenta bageanana.Ngan anu areling caricing. Ariyana mah ngalalajoan. Tapi kaborerang.(((((Datang Reformasi, rahayat asa bebas merdeka, atoh geus leupas tina belenggu anu salila ieu pageuh meulit dina awak. Jalma ribut teu puguh, ngadadak loba jalma anu ngaku pahlawan, asa aing reformis anu milu merjoangkeun turuna raja buta. Jalma-jalma ribut narungtut bagean nagara anu baheula mah boro-boro kabagean, ieu hayang jadi raja, ieu hayang patih atawa punggawa (Presiden, Wapres, Menteri, jll). Ari rahayat dihandap?saruana oge, milu ribut jeung garelut!!Saha ari jalma anu areling? Nyaeta jalma anu nyaho kana eusi nagara anu sajati, anu apal kana sajarah. Jalma anu kasipuh ku pangaweruh, kapatri ku pangarti. Anjeuna mah teu pipilueun tapi anggeur katepaan buntut maung, kapecretan geutahna.)))))

Nu garelut laju rareureuh. Laju kakara arengeuh kabeh ge taya nu meunang bagian. Sabab warisan sakabeh beak, beak ku nu nyarekel gadean.(((((12 taun reformasi, jalma-jalma masih keneh can sadar yen maranehanana teh sabenerna keur marebutkeun paisan kosong. Kabeh ge sabenerna euweuh anu meunang bagean. Sabab saestuna warisan (NAGARA) ieu teh geus BEAK!!!. Beakna ku saha? Nya ku saha deui lamun lain ku buta-buta jaman Raja Buta. Maranehana geus ngagadekeun nagara ieu ka bangsa deungeun (inget hutang nagara anu luar biasa badagna). Inget kumaha laku lampah pamingpin anu nungtut ngajualan aset nagara ka bangsa deungeun (privatisasi). Minyak jeung pakaya bangsa urang sejena beak dikeruk ku bangsa dengeun, anak incu turunan urang mah boa kabagean meureun, da lolobana mah diangkut ka nagara batur. Ieu balukar laku lampah para pamingpin urang anu ngagadekeun nagara ka bangsa dengeun. Jadi nagara urang teh bener-bener geus digadekeun)))))Buta-buta laju nyarusup, nu garelut jadi kareueung, sarieuneun ditempuhkeun leungitna nagara. Laju nareangan budak angon, nu saungna di birit leuwi nu pantona batu satangtung, nu dihateupan ku handeuleum di tihangan ku hanjuang.(((((Reformasi…reformasi…..anu dihareupkeun mawa parobahan jeung katingtriman teh tetela nyamos tina harepan. Reformasi malah jadi RefotNasi. Nagara urang malah tambah awut-awutan, hirup euweuh mendingna, harga sandang pangan beuki mahal, jalma nu korupsi beuki ngalobaan jeung geus euweuh kaera –make aya korupsi berjamaah, kaayaan rahayat saperti balik deui ka Taun 1945/1960. Antukna loba rahayat handap anu mikir, mendingan keneh keur jaman diparentah ku Raja Buta, masing bedegong oge tapi kahirupan rahayat aman, henteu heureut pakeun pungsat bahan cara ayeuna. Akhirna mah ieu buta-buta teh bakal ngahiji deui (kondolidasi) pikeun malikkeun kakawasaan anu sempet leupas. Ngahijina ieu buta-buta teh tangtu dina wanda (rupa) anu anyar, sabab mun make kedok baheula mah rahayat pasti sieuneun.Ti dinya nu garelut teh mimiti kareueung….sieun diarah ku buta, sieun ditempuhkeun leungitna nagara. Antukna ieu nu garelut teh neangan budak angon deui, saha ari budak angon dina mangsa ieu? Cing wang coba gambarkeun saeutik….Budak angon, ari budak teh hartina abid atawa abdi, anu ngucur kesangna lantaran kudu terus aya berjuang di tengah-tengah rahayatna. Jadi ieu budak angon teh nyaeta jalma anu gawena ngabdi. Ngabdi ka rahayat, ngabdi ka sasama, ngabdi ka bangsa/nagara tur ngabdi ka nu Maha Kawasa. Ieu budak angon dina saengoning pangabdiannana teh saestuna sepi ing pamrih rame ing gawe, teu pernah menta buruh atawa menta naon-naon estu ikhlas tur rido. Ari kecap angon, -nyambung kana bait awal– ngangona teh kalakay jeung tutunggul. Naon ari kalakay jeung tutunggul? Kalakay jeung tutunggul dikiaskeun didieu kana kertas jeung pulpen. Jadi ieu budak angon teh jalma anu gawena ngumpulkeun kertas jeung pulpen, atawa sacara jelasna mah ieu budak angon teh jalma anu resep neangan elmu pangaweruh, resep ngumpulkeun sajarah jeung jalma anu terpelajar. Tapi naha anu mawa parobahan nagara jeung sok aya dina unggal-unggal mangsa teh ngan saukur budak angon (abdi/abid)?lain pamingpin atawa raja?sabenerna mun urang pernah maca tulisan salah saurang sosiolog Iran. Anjeuna nerangkeun yen anu bisa mawa hiji bangsa kana revolusi teh lain ti golongan pamarentah atau elmuwan. Jalma anu bisa mawa rahayat pikeun revolusi teh ngan jalma biasa, tapi ieu jalma biasa teh aya terus di tengah-tengah rahayat, gawe langsung jeung rahayat, jadi bisa ngagerakeun rahayat kana parobahan. Atanapi dina sebatan Antonia Gramsi mah jalma nu disebut Intelectual Organic.Saungna di birit leuwi, hartina saung = imah/tempat cicing; birit leuwi = tungtung leuwi. Berarti ieu budak angon mun rek indit atawa balik kudu bisa meuntasan eta leuwi. Ieu teh simbol yen budak angon saungna di birit leuwi teh nyaeta jalma anu bisa leumpang/asup jeung ditarima di rupa-rupa tempat jeung golongan. Jadi ieu budak angon teh lain jalma fanatik anu ngan ukur merjoangkeun golongana/partaina wungkul tapi sanggup berjoang jeung sagala pihak pikeun kapentingan sakabeh rahayatna.

Pantona batu satangtung, batu=barang alam anu kacida teuas. Hartina ieu budak angon teh boga pamadegan anu kacida kuat, teguh pancuh lir ibarat batu, teu gampang gedag kaanginan teu unggut kalinduan. Ieu budak angon teu daek diajak kompromi kana jalan anu salah.Dihateupan ku handeuleum di tihangan ku hanjuang, hartina ieu budak angon teh nyumput buni dinu caang, aya bareng jeung urang tapi teu kawentar sakabeh jalma apal, jalmana sabenerna luar biasa tapi ngaku jalma biasa. Ieu budak angon teh ulah dibayangkeun jalma anu kawentar anu sakabeh rahayat apaleun, malah inyana oge teu apaleun atawa teu pernah ngaku lamun dirina teh budak angon.)))))Nareangan budak tumbal, Tapi, sejana dek marenta tumbal. Tapi, budak angon enggeus euweuh, enggeus narindak babarengan jeung budak anu janggotan; geus mariang pindah ngababakan, parindah ka Lebak Cawene !!Nu kasampak ngan kari gagak, keur ngelak dina tutunggul.(((((Budak angon kaayanana pikasediheun, kusabab teu dipalire jeung dimusuhan wae ku pangawasa ahirna ngahiji bareng jeung budak janggotan miang indit ka Lebak Cawene misahkeun diri. Misahkeun diri ieu teh bisa ku sababaraha sabab, bisa kulantaran geus teu tahan ku sistem pamarentahan anu geus bener-bener ancur. Atawa duanana pindah keur ngahindarkeun tina kadzoliman pagawasa harita, di tempat anu anyar ieu budak angon jeung budak janggotan bisa bisa ngawujudkeun naon anu salila ieu jadi harepan nyaeta nagara anu gemah ripah loh jinawi.Ngeunaan budak angon jeung budak janggotan, aya kapercayaan anu datangna di beulah wetan dicutat tina salah sahiji blog :“Aura “dua sosok” tersebut ada pada dua orang Jawa berdarah Sunda pengikut Rasulullah Muhammad SAW melalui Prabu Kian Santang, dan dalam menapak menjalankan ajaran Sunan Kalijaga dan Sunan Gunung Jati. Secara hakekat fenomena ini melambangkan bahwa “dua sosok” beliau adalah berasal dari Trah Pajajaran-Majapahit. Sehingga setidaknya terjawab sudah apa yang telah diwangsitkan oleh Prabu Siliwangi dalam “Uga Wangsit Siliwangi” berkenaan dengan sosok “Budak Angon dan Pemuda Berjanggut yang mengenakan pakaian serba hitam bersandangkan sarung tua”. Dua sosok tersebut mewakili keturunan Prabu Siliwangi yang pergi menuju ke arah Timur.” Dalam kitab Musasar Jayabaya bab Sinom disebutkan bahwa kedua sosok tersebut berhati putih namun masih tersembunyi dan Pemuda Berjanggut adalah keturunan Prabu Siliwangi yang Islam dan sangat bertauhid.

Tak perlu penasaran siapa sejatinya beliau. Karena beliau “dua orang” tersebut tidak akan muncul di permukaan sebelum misi yang dijalankannya paripurna. Missi tersebut berkenaan dengan “Persatuan Umat” dan untuk ingat kembali akan “Ke-Tuhan-an Yang Maha Esa”. Jangan dibayangkan “beliau” akan harus berhadapan dengan jutaan umat di nusantara ini. Namun dalil yang berlaku pada “beliau” adalah : “Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake”. Sampai kapanpun “beliau” tidak akan mengaku dan tidak mengetahui bahwa dirinya sebagai sosok “Satria Piningit” itu. “beliau” tengah berjalan dari Timur menuju Barat, meluruskan kembali apa yang salah diantara Majapahit dan Pajajaran (khususnya kejadian Perang Bubat). Prinsipnya banyak hal yang perlu diluruskan berkenaan dengan sejarah nusantara ini. Karena kepentingan pihak-pihak tertentu pasca keruntuhan Majapahit. Sampai dengan dekade ini banyak sejarah yang telah diputarbalikkan ataupun dibengkokkan. Secara empirik catatan atau bukti sejarah boleh hilang, namun di alam kegaiban catatan sejarah nusantara ini tidak dapat dihapus. Tak salah kiranya kembali apa yang tertulis di dalam Uga Wangsit Siliwangi :”Dengarkan! Jaman akan berganti lagi, tapi nanti, setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. Ribut lagi seluruh bumi, Orang Sunda dipanggil-panggil, Orang Sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati.”Ngan anu jelas ieu budak janggotan teh turunan Prabu Siliwangi anu milu ka beulah wetan, anjeuna bakal mawa ajaran anu ngutamakeun Tauhid ka Allah SWT, sabab poko pangkal karuksakan ieu nagara teh kusabab manusa geus poho kanu nyiptakeunnana, loba kamusyrikan di mana-mana, manusa nyarembah pangkat jeung kadudukan. Ajaran Tauhid anu murni geus jadi barang langka. Budak janggotan bakal datang deui pikeun ngelingan tur meresan ieu kaayaan tapi bari tetep hormat ka karuhunna.)))))Darengekeun !!Jaman bakal ganti deui. Tapi engke, amun gunung Gede anggeus bitu di susul ku tujuh gunung. Genjlong deui sajajagat. Urang Sunda disasambat, urang Sunda ngahampura. Hade deui sakabehanana. Bangunan ngahiji deui. Mangsa jaya, jaya deui; sabab Ratu anu anyar, Ratu Adil sajati. Tapi Ratu saha ? Ti mana asalna eta Ratu ?Engke oge dia nyaraho.

Ayeuna mah, siar ku dia eta budak angon ! Jig, geura narindak ! Tapi, ulah ngalieuk ka tukang !(((((Ieu bagean wangsit Siliwangi acan bisa kagambarkeun sacara jelas. Tapi kecap gunung, ieu ngalambangkan hal yang luar biasa, anu rongkah. Mun hiji gunung bitu mamalana luar biasa, komo mun tujuh gunung, bisa genjlong ieu nagara. Mun teu salah ngartikeun, revolusi bangsa urang bakal di mimitian ku karusuhan anu muncul di tanah sunda/atawa salah sahiji kota/pulau di tanah sunda (dilambangkan ku gunung gede), terus ngarembet ka wilayah (kota/pulau) sejena (dilambangkeun ku 7 gunung anu sejena). Berarti oge bakal aya kajadian anu ngakibatkeun urang sunda ngamuk terus nusantara jadi rame. Kunanon kecap “gunung gede” bitu teu dihartikeun saujratna? Sabab bakal teu nyambung jeung kalimat “urang sunda disasambat, urang sunda ngahampura” anu artina didieu urang sunda ngambek terus misahkeun diri tina bengkeutan, terus dimenta balik deui, urang sunda ngahampura terus balik deui kana bangkeutan, nusantara jadi ngahiji deui. Nya dina mangsa eta, Ratu Adil anu salila ieu diteangan bakal kapanggih –ku urang Jawa mah ieu ratu Adil teh sok disaruakeun jeung Satria Piningit—tangtu munculna Ratu Adil ieu teh kulantaran pituduh ti budak angon. Prabu Siliwangi teu pernah ngabejaan saha ieu Ratu Adil (saha? Timana?), tapi ngan mere parentah pikeun neangan budak angon, sabab budak angon ieu anu bakal jadi konci utama jeung nu nungtun urang pikeun manggihan Ratu Adil anu sajati. Tapi dina mangsa neangan budak angon jeung Ratu Adil eta urang ulah sakali-kali ngalieuk ka tukang dina artian ulah ningali ka tukang, ka mangsa anu geus kaliwat jeung ulah ngungkit-ngungkit pangalaman katukang))))) 
Panutup


Jelas kagambar dina ieu uga, urang sunda anu bakal nyekel pancen pikeun memeres ieu nagara anu geus ruksak. Iraha? Teuing, ngan nu jelaslah mah urang kudu terus usaha pikeun ngomean ieu nagara tapi sakali-kali ulah ngungkit-ngungkit hal-hal anu geus kaliwat. Ayeuna mah anu paling penting sakabeh urang sunda kudu baralik deui ngorehan elmu karuhuna (Pajajaran) tah didinya bakal nepi heula kana uga Bandung “Sunda nanjung mun anu pundung ka Cikapundung geus baralik deui”—artina mun sakabeh komponen kasundaan geus ngahiji deui, kakara Sunda bakal nanjung. Jeung tugas penting sejena nyaeta urang kudu neangan eta budak angon dimana ayana, mun geus kapanggih kudu didukung ku sarerea. Mudah-mudahan!))))Dina salah sahiji Uga aya uninga jiga kieu “Nagara urang bakal aman, mun urang jawa tinggal separo, urang belanda tinggal sajodo, urang cina pada lungo” Hartina? Eta mah gampang tinggal terjemahkeun pake kamus wae.
Cag
sumber

Ari jelema kiwari mikir na kumaha ??!!

Ieu judul postingan teh moal kapanggih naon maksudna lamun teu dibaca nepi ka tamat. Matakna maca na nepi ka tamat nya. Saacan na kuring re...